Meneguhkan Keindonesian Bersama Pertamina
Foto : Suparto Wijoyo, Koordinator Magister Sains Hukum & Pembangunan Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga

Meneguhkan Keindonesian Bersama Pertamina

Sabtu , 15 Februari 2020 - 21:20 WIB

***

Shares

Oleh: Suparto Wijoyo
 
KEDAULATAN negara tidak sekadar diukur dari pengamalan  demokrasi yang melambangkan adanya supremasi kuasa di tangan rakyat, melainkan  terdapat jua nilai atas realitas yang mampu menggelorakan kebanggaan. Secara spesifik Pertamina sejatinya hadir sebagai bagian dari “DNA kedaulatan” itu dalam konstruksi yang menggumpalkan jiwa-jiwa optimistis pemenuhan kebutuhan energi bangsa.
 
Pertamina saya maknai selaksa titik simpul pemartabatan yang sangat iconic sebagai lambang keindonesiaan di kancah dunia. Menjelajahi setiap ruas koordinat teritorial nusantara, saya menyaksikan struktur bangunan yang amat berkarakter “energi Indonesia”: padu padan warna merah putih. Bangunan kilang-kilang dan SPBU yang khas nan berjajar sambung menyambung dari Sabang sampai Merauke menjadi satu rangkaian kekuatan nasional. 
 
Deretan SPBU yang dibahasakan oleh handai taulan di kampung saya sebagai “pom bensin” itu hakekatnya adalah “mata rantai kehidupan” seluruh anak bangsa. Pada ruang “pom bensin” dalam bingkai nurani bernegara tidaklah sebatas onggokan material semata, tetapi sesungguhnya terhelat kehormatan publiknya. Di Pertamina diniscayakan marwah kebangsaan itu disematkan, karena di setiap jengkal lahan SPBU pastinya terkristalisasi “gumpalan kehendak tentang energi penggerak peradaban”. 
 
Tegakan “pom bensin” ini tidak saya temukan dalam kelindan waktu berselancar di banyak negara demokrasi di benua manapun yang sedemikian mendominasi melebihi SPBU-Pertamina. Ini bukan soal monopoli tetapi sebuah atribusi kedaulatan rakyat yang berjanji untuk meneguhkan kebangsaannya melalui penguatan Pertamina. Tidak belanja “migas” selain produk Pertamina. 
 
Itulah “kontrak batin” yang normal untuk dibopong dengan penuh keagungan di setiap  person negara dengan implikasi tematik Pertamina berkomitmen mewujudkan kedaulatan energi dari bangsa yang merdeka. Atas nama daulat energi bagi rakyat, Pertamina mutlak kuat dan bertekat menyuguhkan yang terbaik. Mengikuti dinamika transformasi dan metamorfosis Pertamina yang bermula  “menyelam di samudera melalui kuda laut” menjadi “anak panah seberkas jemparing yang melesat” adalah indikator visioner kesanggupan berlaga di gelanggang global. Keberadaan kilang-kilang yang menyembul di banyak bentara semakin menyempurnakan diri bahwa korporasi ini pantas diapresiasi, meski kritik esok hari akan selalu menghampiri.
 
Agenda pembangunan RDMP Balikpapan, Proyek Langit Biru Cilacap, RDMP Balongan, GRR Tuban, Green Refinary Plaju, NGRR Bontang maupun lainnya musti disambut “tepukan hati agar lahir daulat energi”. Proyek ini  bukan hitungan statistikal an-sich, melainkan genta suara yang menggedor kesadaran untuk memenuhi kebutuhan energi rakyat berkelanjutan.   
 
Apalagi di tarikh abad ke-21 dalam kerangka green century, untuk memanggul kedaulatan energi secara operasional, Pertamina memiliki “laskar” biocracy.  Hal ini dibangun dari konsepsi bahwa kecerdasan emosional dan spritual SDM Pertamina apabila mengikuti arahan  Daniel Goleman (2009) pastilah diberi asupan ecological intelligence. Energi ramah lingkungan ditampilkan sebagai parameter sekaligus variabel penentu setiap perilaku “kesatria” Pertamina. 
 
Tim Pertamina yang memiliki ecological intelligence akan memposisikan diri pada lingkungan secara ekosistemik yang terintegrasi dengan sikap hidupnya.  
 
Pertamina tentu tengah berotasi di wahana: green policy, green budgeting, green company, green banking, green credit, green legislations, dan sebagainya, termasuk green party. Zaman ini membawa  Pertamina bermuatan lingkungan yang dalam bahasa Auden Schendler (2009) adalah “getting green done” sebagai “front lines of the sustainability revolution”. 
 
Terkonfirmasi bahwa umat manusia mengonsumsi energi lebih dari yang mampu disediakan planet kita, dan membuat limbah melebihi dari yang bisa diserap oleh ekosistem manusia.
 
Titik tengah dari kelebihan konsumsi dan ketidakmampuan menampung adalah titik hutang manusia kepada ekosistemnya, kata Jean-Luc Melechon (2013). 
 
Pertamina tampak memenuhi panggilan  waktu untuk mengembangkan sisi ekologis yang lebih progresif. Sehubungan dengan ini terngianglah dua pertanyaan menggairahkan dari John Stuart Mill: Pertama, towards what ultimate point is society tending by its industrial progress? Jawabannya: melalui  kepastian regulasi dan prediktabilitasnya, hukum yang dibuat dipersepsi membawa ke arah social  and legal order. Kedua, when the progress ceases, in what condition are we to expact that it will leave mankind? Sahutnya tiada lain adalah: SDM profesional yang mau melayani dalam bingkai Pertamina milik negeri.
 
Saya percaya, Pertamina sanggup menjaga stamina juangnya agar  tidak termasuk satire ala Samel C. Florman: plus la change, plus la meme chose – semakin berubah, semakin sama saja.   
 
Mengikuti saran brilian Jared Diamond melalui karya inspiratifnya, Collapse (2014): siapapun, perorangan, badan usaha dan negara dapat melakukan untuk menemukan cara mencegah  peradaban ambruk karena dunia tak kuat menanggungnya. 
 
Pada tahapan ini saya senantiasa mengajak menyimak penuh khusuk pidato-pidato Bung Karno yang mengajarkan nasionalisme, mengajarkan jasmerah. Terhadap janji-janji dokumenter yang terbungkus di kisah historis Pertamina, menjadikan saya membaca ulang Pidato Bung Karno pada peringatan Hari Kebangunan Nasional, 20 Mei 1952 yang berjudul Setialah Kepada Sumbermu.
 
Pidato itu niscaya memukau: “ … mengalirlah sungai itu terus … mengalirlah ia terus, dengan kita di dalamnya, dengan generasi yang akan datang pun di dalamnya, mengalirlah ia terus, ke lautan besar – lautan besarnya keagungan bangsa, lautan besarnya kesentosaan negara, lautan besarnya kesejahteraan masyarakat, lautan besarnya kebahagiaan kemanusiaan … door de zee op te zoeken, is de rivier trouw aan haar bron – dengan mengalirnya ke lautan, sungai setia kepada sumbernya”.
adalah sungai yang setia mengalir ke asalnya untuk meneguhkan kedaulatan energi bagi rakyat. Hari-hari ini adalah saat Pertamina turut memendarkan komitmen menjalankan bisnis yang  setia kepada “takdir pendiriannya”.
 
Akhirnya, kuselipkan lantun puitis Jose M.A. Capdevilla yang dikutip Mochtar Lubis:
 
Aqui tengo una voz enardecida
Aqui tengo una vida combatida …
Aqui tengo un rumor, aqui tengo una vida
 
Ini suaraku yang meradang
Ini hidupku penuh perjuangan …
Ini pesanku, ini hidupku ....
 
Pertamina adalah lambang heroisme keindonesiaanku. 
 
*) Koordinator Magister Sains Hukum & Pembangunan Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga
 


TAG : Pertamina 

Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitnews[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Terkini


A PHP Error was encountered

Severity: Core Warning

Message: PHP Startup: Unable to load dynamic library '/opt/cpanel/ea-php56/root/usr/lib64/php/modules/mysqli.so' - /opt/cpanel/ea-php56/root/usr/lib64/php/modules/mysqli.so: cannot open shared object file: No such file or directory

Filename: Unknown

Line Number: 0